Te-Minutes – Bunda Literasi Kabupaten Batang Hari sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Batang Hari, Zulva Fadhil, mengajak seluruh kader PKK di Kabupaten Batang Hari untuk mengambil bagian dalam program Sekolah Keluarga Literat. Program tersebut dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi keluarga, khususnya para kader PKK, dalam memperkuat budaya literasi yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya anak, tetapi juga menjadi lingkungan pertama yang membangun kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, serta berpikir kritis.
Program Sekolah Keluarga Literat merupakan kolaborasi Bunda Literasi Kabupaten Batang Hari bersama Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional RI yang menyasar kader PKK di seluruh wilayah Kabupaten Batang Hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Zulva Fadhil menyampaikan bahwa kader PKK memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi keluarga. Sebagai bagian yang dekat dengan kehidupan keluarga dan masyarakat, kader PKK dinilai dapat menjadi penggerak yang membawa praktik literasi hingga ke lingkungan rumah.
“Saya mengajak seluruh kader PKK Kabupaten Batang Hari untuk bersama-sama mengikuti Sekolah Keluarga Literat. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi bagaimana kita membangun keluarga yang gemar belajar, mampu berkomunikasi dengan baik, dan memiliki kemampuan untuk menyaring serta mengolah informasi,” ujar Zulva.
Menurutnya, penguatan literasi harus dimulai dari keluarga. Kebiasaan sederhana seperti membacakan buku kepada anak, menyediakan waktu untuk berdiskusi, mendampingi anak menggunakan teknologi, hingga membiasakan keluarga menulis dan menyampaikan gagasan merupakan bagian dari praktik literasi yang dapat dilakukan sehari-hari.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Karena itu, ketika orang tua dan kader PKK memiliki pemahaman literasi yang baik, kita berharap kebiasaan positif tersebut dapat ditularkan kepada anak-anak dan lingkungan di sekitarnya,” lanjutnya.
Sekolah Keluarga Literat juga diarahkan untuk memberikan keterampilan praktis kepada para kader. Salah satunya melalui penguatan kemampuan menulis, termasuk menulis pengalaman dan refleksi kehidupan keluarga yang kemudian dapat dikembangkan menjadi karya literasi.
Bagi Zulva, pengalaman para kader PKK merupakan sumber pengetahuan yang berharga. Berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat, pengalaman mendampingi keluarga, serta praktik baik di lingkungan masing-masing dapat didokumentasikan dalam bentuk tulisan sehingga tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi dapat menjadi pengetahuan yang dibagikan kepada masyarakat.
“Saya yakin setiap kader memiliki cerita, pengalaman dan praktik baik yang sangat berharga. Mari kita dokumentasikan pengalaman itu melalui tulisan. Dari kader PKK, kita bisa lahirkan keluarga-keluarga yang literat dan bahkan penulis-penulis baru dari Batang Hari,” ungkapnya.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi berkembang menjadi gerakan literasi keluarga yang berkelanjutan. Kader PKK yang mengikuti program nantinya diharapkan mampu menjadi agen literasi di lingkungan masing-masing dengan mengajak keluarga dan masyarakat membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
Kolaborasi bersama Relima Perpustakaan Nasional RI menjadi bagian penting dalam memperluas gerakan tersebut. Sinergi antara pemerintah, organisasi perempuan, pegiat literasi dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem literasi yang lebih kuat di Kabupaten Batang Hari.
Dengan melibatkan kader PKK secara luas, Sekolah Keluarga Literat diharapkan menjadi salah satu langkah strategis untuk menjadikan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan budaya literasi di Kabupaten Batang Hari.
“Mari kita mulai dari keluarga, bergerak bersama dari kader PKK, dan menjadikan literasi sebagai kebiasaan. Karena keluarga yang literat adalah fondasi bagi lahirnya generasi Batang Hari yang cerdas, kritis, kreatif dan berkarakter,” pungkas Zulva.






