Te-Minutes – Upaya memperkuat budaya literasi dari lingkungan keluarga terus digencarkan di Kabupaten Batang Hari. Ketua TP-PKK Kabupaten Batang Hari sekaligus Bunda Literasi Batang Hari, Zulva Fadhil, meluncurkan program Sekolah Keluarga Literat, sebuah program kolaborasi bersama Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional RI lokus Kabupaten Batang Hari.
Program yang dijadwalkan mulai dilaksanakan pada September 2026 tersebut menyasar kader PKK di seluruh Kabupaten Batang Hari. Sekolah Keluarga Literat dirancang sebagai ruang belajar dan penguatan kapasitas kader agar mampu menjadi penggerak budaya literasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas gerakan literasi hingga ke tingkat keluarga. Sebab, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak sekaligus ruang paling awal dalam membentuk kebiasaan membaca, menulis, berkomunikasi, berpikir kritis, serta kemampuan menyaring informasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Zulva Fadhil mengatakan, gerakan literasi tidak boleh hanya berhenti di lingkungan sekolah. Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan literasi sejak anak berada di rumah.
“Literasi itu tidak cukup hanya kita dorong di sekolah. Keluarga adalah tempat pertama anak belajar. Karena itu, melalui Sekolah Keluarga Literat ini kita ingin para kader PKK memiliki bekal untuk menjadi penggerak literasi di dalam keluarga dan lingkungan masing-masing,” ujar Zulva Fadhil.
Ia menjelaskan, kader PKK dipilih menjadi sasaran program karena memiliki kedekatan langsung dengan keluarga dan masyarakat. Dengan penguatan kapasitas tersebut, kader diharapkan tidak hanya memahami pentingnya literasi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya melalui aktivitas sederhana di lingkungan keluarga.
“Kita ingin kader PKK menjadi contoh di keluarganya masing-masing. Dimulai dari hal sederhana, seperti membiasakan membaca bersama anak, mengajak keluarga berdiskusi, menulis pengalaman, hingga mampu memilih dan menggunakan informasi secara bijak,” katanya.
Menurut Zulva, Sekolah Keluarga Literat akan menjadi salah satu upaya untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, serta menghasilkan karya.
Program yang akan dimulai pada September 2026 ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan bagi kader PKK. Melalui kolaborasi dengan Relima Perpustakaan Nasional RI, pelaksanaan program akan diarahkan pada penguatan keterampilan praktis yang dapat diterapkan kader dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap Sekolah Keluarga Literat ini bukan sekadar program, tetapi menjadi gerakan. Setelah mengikuti kegiatan, para kader bisa membawa pengetahuan yang didapat ke rumah, kemudian diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya,” ungkap Zulva.
Ia menambahkan, membangun budaya literasi membutuhkan proses dan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, sinergi antara TP-PKK, Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional RI, pemerintah daerah, serta masyarakat menjadi modal penting agar gerakan literasi dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Kalau kita ingin membangun generasi yang cerdas dan berkarakter, kita harus mulai dari keluarga. Keluarga yang literat akan menjadi fondasi bagi lahirnya anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu, mampu berpikir kritis, gemar belajar, dan siap menghadapi perkembangan zaman,” tuturnya.
Melalui pelaksanaan Sekolah Keluarga Literat pada September mendatang, Kabupaten Batang Hari diharapkan tidak hanya memperkuat budaya membaca, tetapi juga membangun keluarga yang memiliki kecakapan dalam mengelola informasi dan menciptakan pengetahuan.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan literasi di Kabupaten Batang Hari dengan menjadikan keluarga sebagai titik awal dan kader PKK sebagai penggeraknya.






