Te-Minutes – Di setiap sudut kegiatan masyarakat Batang Hari, ada satu sosok yang hampir selalu hadir dengan senyum hangat dan langkah penuh ketulusan, Zulva Fadhil, Ketua TP PKK Kabupaten Batang Hari yang oleh banyak warga disebut sebagai Bunda Batang Hari. Julukan itu bukan sekadar gelar, melainkan gambaran dari kedekatannya dengan masyarakat lintas usia dan generasi.
Pada sebuah kegiatan literasi di salah satu sekolah, anak-anak berlarian menghampirinya tanpa ragu. Mereka menyapa, menggenggam tangannya, bahkan ada yang minta dipeluk. Zulva menanggapi semuanya dengan tawa lembut, seolah sedang menyambut anak-anaknya sendiri. Tidak ada batasan protokol, tidak ada jarak, yang ada hanyalah kehangatan.

Di tempat lain, para ibu rumah tangga berkumpul menunggu kehadirannya. Mereka tahu, setiap dialog dengan Bunda Zulva selalu memberi ruang untuk saling berbagi pengalaman tentang pendidikan anak, kesehatan keluarga, hingga cara meningkatkan penghasilan melalui usaha kecil. Zulva mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat, dan memberikan solusi yang realistis. Baginya, suara ibu-ibu adalah pintu masuk memahami kebutuhan keluarga di Batang Hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedekatannya juga terasa kuat di antara generasi muda. Para remaja dan pemuda sering menceritakan bahwa mereka merasa dihargai ketika berbicara dengannya. Zulva tidak pernah memandang mereka sebagai generasi yang sekadar perlu diarahkan, tetapi sebagai mitra yang memiliki gagasan besar untuk daerah.
“Bunda selalu memberi ruang untuk mendengar ide kami. Itu yang membuat kami merasa dipercaya,” ujar salah seorang pemuda Batang Hari.

Sementara itu, bagi para lansia, Zulva adalah figur yang membawa suasana tenteram. Ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyapa para orang tua dengan bahasa yang halus dan penuh hormat. Banyak di antara mereka yang mengaku merasa seperti sedang bertemu anak sendiri setiap kali Zulva hadir.
Kedekatan lintas usia yang terbangun bukan hadir dengan sendirinya. Zulva melewatinya dengan konsistensi: hadir bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tetapi sebagai pribadi yang ingin memastikan setiap warga dari anak kecil hingga para tetua merasakan perhatian yang layak. Dalam setiap acara, ia selalu memilih menyapa lebih lama, duduk lebih dekat, dan berbicara dari hati ke hati.
Jejak langkahnya di Batang Hari membentuk sebuah kisah humanis tentang seorang perempuan yang memaknai kepemimpinan dengan sentuhan personal. Sosok yang tidak hanya menandatangani kebijakan, tetapi juga memeluk warganya. Figur yang tidak hanya hadir di podium, tetapi juga di tengah tawa warga desa, keramaian pasar, pertemuan komunitas, hingga ruang-ruang kecil tempat masyarakat mencari harapan.
Zulva Fadhil bukan hanya Ketua TP PKK. Bagi masyarakat, ia adalah simbol kehangatan yang mempersatukan. Bunda yang keberadaannya membuat Batang Hari terasa lebih dekat, lebih ramah, dan lebih harmonis.






